Selasa, 03 Mei 2016

Jenis-Jenis Kambing Potong (Pedaging) di Indonesia



Ternak Kambing yang ada sekarang diduga berasal dari 3 Kambing liar yakni Capra hircus dari Pakistan dan Turki, Capra falconeri dari Khasmir dan Capra prisca dari Balkan. Secara systematic zoology kambing dapat disusun sebagai berikut;
Kingdom         :  Animal
Phylum            :  Chordata
Class                :  Mammalia
Order               :  Ungulata
Family             :  Bovidae
Genus              :  Capra
Species            :  Capra species
 

Kalau diamati perkembangan sebagai ternak potong, maka kambing masih kalah dengan domba, dan biasanya disamping sebagai ternak potong juga sebagai ternak perah. Banyak kambing-kambing luar yang didatangkan ke Indonesia seperti Etawa, Angora, Khasmir, Mountgommeri dari India dan juga Saanen dan Toggenburg dari Belanda. Peternakan Kambing di Indonesi banyak terdapat di pantai utara Jawa, Sulawesi Selatan, Aceh dan Nusa Tenggara. 
Ada berbagai jenis kambing di Indonesia yang menghasilkan daging (pedaging/potong). Sangat sedikit jenis ternak kambing  Indonesia yang menghasilkan susu. Jika pun ada, produksi susunya sangat rendah sehingga secara ekonomis tidak menguntungkan dibanding jika memanfaatkannya untuk produksi daging. Umumnya beberapa kambing hasil persilangan kambing lokal dengan kambing sub tropis penghasil susu, juga mampu memproduksi susu. Tetapi tingkat produksinya tidak sama tinggi seperti induknya. Jikalau pun ada, hanya peternakan yang dikembangkan di daerah-daerah bersuhu dingin yang mengembangkannya. Berikut ini dijelaskan jenis-jenis kambing potong yang ada di Indonesia.

1. KAMBING KACANG

Kambing Kacang
(Capra Hircus) adalah ras unggul kambing yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Badannya kecil. Kambing Kacang merupakan kambing lokal Indonesia, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat serta memiliki daya reproduksi yang sangat tinggi. Kambing kacang jantan dan betina merupakan tipe kambing pedaging yang baik.
Ciri-ciri kambing Kacang antara lain ukuran badan relatif lebih kecil dari jenis kambing lainnya, memiliki kepala yang kecil, telinga tegak, mempunyai bulu yang lurus dan pendek, bulu kambing pendek untuk seluruh tubuhnya, namun bulu panjang pada ekor dan dagu. Kambing Kacang jantan memiliki bulu yang panjang sebatas garis leher sampai pundak ,punggung hingga ekor dan pantat, memiliki warna tunggal hitam, putih, coklat atau kombinasi dari ketiga warna tersebut. Kambing Kacang betina maupun jantan memiliki tanduk yang pendek. Berat badan kambing jantan dewasa bisa mencapai 35 kg, dan kambing betina dewasa bisa mencapai 30 kg. Tinggi kambing jantan berkisar 60 - 70 cm, dan yang betina hingga 50 cm.

2.  KAMBING JAWARANDU

Kambing Jawarandu merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing Kacang. Kambing ini memliki ciri separuh mirip kambing Etawa dan separuh lagi mirip kambing Kacang. Kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak 1,5 liter per hari.
Kambing Jawa Randu memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Kambing Jawa Randu terkenal dengan makannya yang rakus. Kambing Jawarandu  sering dipelihara untuk diperah susunya tetapi banyak pula peternak menggunakannya sebagai ternak pedaging (menghasilkan daging). Produksi susu kambing Jawarandu sebanyak 1,5 liter per hari.
Ciri-Ciri Kambing Jawa Randu  antara lain warna bulu hitam, putih, coklat atau kombinasi dari ketiga warna, punggungnya melengkung kebawah, kepala terliaht besar dan lancap, bertanduk,  telinga lebar dan menggantung. Bobot badan kambing jantan dewasa dapat mencapai lebih dari 40 Kg, sedangkan bobot dewasa betina di bawah 40 Kg.
3.  KAMBING MARICA


Kambing Marica adalah suatu variasi lokal dari kambing Kacang. Kambing Marica yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement). Daerah populasi kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan.
Kambing Marica memiliki potensi genetik yang mampu beradaptasi baik di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah berbatu-batu. Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.

4.  KAMBING SAMOSIR


Berdasarkan sejarahnya kambing ini dipelihara penduduk setempat secara turun temurun di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Kambing Samosir bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ekosistem lahan kering dan berbatu-batu, walaupun pada musim kemarau biasanya rumput sangat sulit dan kering. Kondisi pulau Samosir yang topografinya berbukit, ternyata kambing ini dapat beradaptasi dan berkembang biak dengan baik.
Karakteristik morfologik tubuh kambing dewasa yaitu rataan bobot badan betina 26,23 ± 5,27 kg,  panjang badan 57,61 ± 5,33 cm; tinggi pundak 50,65 ± 5,28 cm; tinggi pinggul 53,22 ± 5,43 cm; dalam dada 28,67 ± 4,21 cm dan lebar dada 17,72 ± 2,13 cm. Berdasarkan ukuran morfologik tubuh, bahwa kambing spesifik lokal Samosir ini hampir sama dengan kambing Kacang yang ada di Sumatera Utara, yang membedakannya terhadap kambing Kacang yaitu fenotipe warna tubuh yang dominan putih dengan hasil observasi 39,18% warna tubuh putih dan 60,82% warna tubuh belang putih hitam. Dari warna belang putih hitam didapatkan rataan sebaran warna berdasarkan luasan permukaan tubuh 92,68% kurang lebih 4,23% warna putih dan 7,32 kurang lebih 4,11% warna hitam.

5. KAMBING MUARA


Kambing Muara dijumpai di daerah Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara. Dari segi penampilannya kambing ini nampak gagah, tubuhnya kompak dan sebaran warna bulu bervariasi antara warna bulu coklat kemerahan, putih dan ada juga berwarna bulu hitam. Bobot kambing Muara ini lebih besar dari pada kambing Kacang dan kelihatan prolifik. Kambing Muara ini sering juga beranak dua sampai empat sekelahiran (prolifik). Walaupun anaknya empat ternyata dapat hidup sampai besar walaupun tanpa pakai susu tambahan dan pakan tambahan tetapi penampilan anak cukup sehat, tidak terlalu jauh berbeda dengan penampilan anak tunggal saat dilahirkan. Hal ini diduga disebabkan oleh produksi susu kambing relatif baik untuk kebutuhan anak kambing 4 ekor.

6. KAMBING KOSTA

Lokasi penyebaran kambing Kosta ada di sekitar Jakarta dan Propinsi Banten. Kambing ini dilaporkan mempunyai bentuk tubuh sedang, hidung rata dan kadang-kadang ada yang melengkung, tanduk pendek, bulu pendek. Kambing ini diduga hasil persilangan kambing Kacang dan kambing Khasmir (kambing impor). Hasil pengamatan, ternyata sebaran warna dari kambing Kosta ini adalah coklat tua sampai hitam. Dengan presentase terbanyak hitam (61 %), coklat tua (20%), coklat muda (10,2%), coklat merah (5,8%), dan abu-abu (3,4%). Pola warna tubuh umumnya terdiri dari 2 warna, dan bagian yang belang didominasi oleh warna putih.
Kambing Kosta terdapat di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan wilayah Tangerang dan DKI Jakarta.
Ciri khas Kambing Kosta adalah terdapatnya motif garis yang sejajar pada bagian kiri dan kanan muka, selain itu terdapat pula ciri khas yang dimiliki oleh Kambing Kosta yaitu bulu rewos di bagian kaki belakang mirip bulu rewos pada Kambing Peranakan Ettawa (PE), namun tidak sepanjang bulu rewos pada Kambing PE dengan tekstur bulu yang agak tebal dan halus. Tubuh Kambing Kosta berbentuk besar ke bagian belakang sehingga cocok dan potensial untuk dijadikan tipe pedaging.

7. KAMBING GEMBRONG


Asal kambing Gembrong terdapat di daerah kawasan Timur Pulau Bali terutama di Kabupaten Karangasem. Ciri khas dari kambing ini adalah berbulu panjang. Panjang bulu sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Rambut panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm. Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya putih (61,5%) sebahagian berwarna coklat muda (23,08%) dan coklat (15,38%). Pola warna tubuh umumnya adalah satu warna sekitar 69,23% dan sisanya terdiri dari dua warna 15,38% dan tiga warna 15,38%. Rataan litter size kambing Gembrong adalah 1,25. Rataan bobot lahir tunggal 2 kg dan kembar dua 1,5 kg.
Banyak dugaan bahwa kambing Gembrong merupakan persilangan antara kambing Kashmir dengan kambing Turki. Dugaan ini didasarkan pada ciri-ciri fisik kambing yang hampir mirip dengan kambing gembrong. Alasannya, kambing ini kesulitan untuk makan akibat mata dan mulutnya tertutup oleh bulu. Kesulitan ini mengakibatkan makanan sulit masuk ke mulut hingga tidak bisa menerima masukan gizi yang memadai. Akibatnya, kambing mudah terserang penyakit hingga mati.

8.KAMBING BOER

Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang ter-registrasi selama lebih dari 65 tahun. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang cepat. Kambing ini dapat mencapai berat dipasarkan 35–45 kg pada umur 5 hingga 6 bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02–0,04 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40 %–50 % dari berat tubuhnya.
Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.
Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25oC) hingga sangat panas (43oC) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Tahan terhadap penyakit dan dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput.
Kambing Boer jantan dapat menjadi hewan yang jinak, terutama jika terus berada di sekitar manusia sejak lahir, meskipun ia akan tumbuh dengan berat badan 120 – 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun. Boer jantan dewasa (2 – 3 tahun) dapat melayani 30 – 40 betina. Kambing Boer betina sangat jinak dan pada dasarnya tidak banyak berulah. Setelah beranak pertama, ia biasanya akan beranak kembar dua, tiga, bahkan empat. Kambing Boer betina mampu menjadi induk hingga selama 5–8 tahun. Betina dewasa (umur 2-3 tahun) akan mempunyai berat 80–90 kg. Kambing Boer betina maupun jantan bertanduk.

9. KAMBING BOERAWA



Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing Peranakan Etawah (PE) betina. Ternak hasil persilangan kedua jenis kambing tadi disebut Boerawa yakni singkatan dari kata Boer dan Peranakan Etawah. Kambing hasil persilangan ini mulai berkembang dan banyak jumlahnya di Propinsi Lampung.
Tujuan dari persilangan ini adalah untuk mendapatkan produksi daging yang tinggi dan memperoleh kambing yang berpostur besar dan tinggi. Selain itu untuk mendapatkan kambing yang mampu beradaptasi dengan segala macam lingkungan, serta pertumbuhan yang cepat.
Ciri-ciri umum kambing Boerawa yaitu; warna dominan adalah putih pada bagian leher sampai kepala berwarna hitam, memiliki tanduk. Kambing jantan tanduknya melingkar ke bawah dan ujung tanduk menghadap ke depan, telinga yang panjang dan terkulai, kaki panjang yang menopang tubuhnya sehingga terlihat kompak, bobot kambing jantan dewasa dapat mencapai 80 Kg, dan bobot betina dewasa dapat mencapai 60 kg.

Senin, 02 Mei 2016

Peluang Bisnis Sapi Potong

Peternakan sapi potong hingga saat ini berada dalam kondisi yang sangat prospektif secara bisnis. Ada beberapa hal yang melandasinya yakni; tingkat pendidikan yang makin maju mendorong opsi konsumsi protein semakin tinggi. Selain itu, peningkatan pendapatan per kapita penduduk yang semakin tinggi juga menjadi faktor pendukung. Protein berfungsi meningkatkan kecerdasan, meningkatkan massa otot, meningkatkan antibodi tubuh. Dengan demikian, konsumsi protein per orang yang tinggi dapat berpengaruh positif terhadap kemajuan suatu bangsa.
Dari data yang dilansir BPS tahun 2014, disebutkan bahwa tingkat konsumsi protein penduduk Indonesia telah mencapai 53,91 gr/kap/hr atau equivalen dengan 19,67 kg/kap/thn. Dari jumlah tersebut, kontribusi daging sapi baru sebesar 2,6 kg/kap/thn. Jumlah ini sangat jauh dibandingkan konsumsi negara Malaysia dan Singapura yang mencapai 15 kg/kap/thn. Atau negara Argentina yang mencapai 55 kg/kap/thn, Brazil sebesar 40 kg/kap/thn, Jerman sebesar 42 kg/kap/thn. Tingkat konsumsi daging sapi yang rendah tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran penduduk akan pentingnya protein bagi tubuh. Persoalannya sekarang adalah dengan tingkat konsumsi yang masih rendah tersebut pun, belum bisa terpenuhi dari produksi sapi dalam negeri.
 

Rendahnya produksi sapi lokal diakibatkan oleh banyak hal. Satu yang paling penting diantaranya adalah pemeliharaan yang masih bersifat tradisional, hanya sebagai usaha sambilan. Dengan pola pemeliharaan tradisional dan sifatnya hanya sebagai usaha sambilan, maka segala aspek penting dalam pengelolaan ternak menjadi hal yang tak penting untuk diperhatikan. Mulai dari kualitas turunan yang kian hari kian kecil, pakan yang asal-asalan (kualitas dan kuantitas rendah), penangan kesehatan yang tidak diperhatikan dan tidak berorientasi bisnis. Akibatnya, meskipun secara populasi ternak sapi lokal kita telah melebihi 17 juta ekor (akhir 2015), secara kualitatif belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Berangkat dari hal tersebut di atas, usaha atau bisnis di bidang peternakan sapi potong masih sangat menggiurkan. Tentunya dengan penanganan yang terpadu mulai dari bibit, pakan serta manajemen kesehatan. Karenanya, kecenderungan yang menjadi pilihan saat ini adalah usaha peternakan intensif dalam jangka waktu yang pendek. Usaha yang khusus bergerak di bagian penggemukan dengan waktu minimal 3 bulan. Durasi waktu yang singkat memungkinkan perputaran modal terjadi dalam waktu yang cepat sehingga mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Minggu, 01 Mei 2016

Ternak Sapi Potong Tropis



Perkembangan bioteknologi di bidang peternakan sudah sangat pesat sehingga saat ini bermunculan beberapa bangsa sapi potong baru, baik berasal dari persilangan maupun rekayasa genetik. Semua bangsa sapi potong yang ada di dunia memiliki klasifikasi zoologis sebagai berikut;
Filum               : Chordata
Kelas               : Mamalia
Ordo                : Artiodaktili
Sub Ordo        : Ruminansia
Famili              : Bovidae
Genus              : Bos
Bangsa sapi potong tropis adalah bangsa sapi potong yang berasal dari belahan dunia beriklim tropis. Bos indicus (sapi bangsa Zebu) merupakan bangsa sapi potong berponok dari daerah tropis di Asia yang kita kenal sekarang ini. Bangsa sapi potong tropis merupakan salah satu bangsa yang menjadi bibit sapi potong. Bibit ternak merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam usaha peternakan sapi potong, selain faktor pakan, perkandangan, penyakit, limbah dan penanganan panen. (Sudarmono dan Sugeng , 2008).
Ciri-ciri umum bangsa sapi potong tropis adalah sebagai berikut: umumnya berpunuk, walaupun ada yang tidak berpunuk, pada bagian ujung telinga meruncing, kepala panjang dengan dahi sempit, kulit longgar dan tipis (5-6 mm), kelenjar keringat besar, timbunan lemak rendah, garis punggung bagian tengah berbentuk cekung dan bagian tunggingnya miring, memiliki bahu pendek, halus dan rata.Selain itu, memiliki kaki yang panjang sehingga bergerak lincah. Lambat dewasa, rata-rata berat maksimal 250-650 kg dapat dicapai pada umur 5 tahun. Bentuk tubuh sempit dan kecil. Ambing kecil. dan produksi susu rendah. Tahan terhadap suhu tinggi dan kehausan. Kadar air yang terkandung dalam kotoran rendah. Toleran berbagai jenis pakan sederhana yang kandungan serat kasar tinggi. Tahan terhadap gigitan nyamuk dan caplak. Berikut ini adalah beberapa jenis sapi tropis yang popular;
1. SAPI BALI


Sapi Bali adalah bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang berasal dari banteng (Bibos banteng) yang telah didomestikasi atau dijinakkan. Sapi Bali mempunyai angka reproduksi yang tinggi, tingkat adaptasi yang sangat baik terhadap kondisi pakan yang jelek dan lingkungan yang panas serta mempunyai persentase karkas dan kualitas daging yang bagus.
Ciri fisik sapi bali yaitu berwarna bulu merah bata, pada jantan akan menjadi hitam saat dewasa, memiliki warna putih dengan batas yang jelas pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, kaki bawah mulai tarsus dan carpus, mempunyai gumba yang bentuknya khas serta terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung (Hardjosubroto, 1994).
Karakteristik Sapi Bali yaitu memiliki kemampuan untuk mempertahankan kondisi dan bobot badannya meskipun dipelihara di padang gembalaan yang kualitasnya rendah. Disamping itu, kemampuannya mencerna serat dan memanfaatkan protein pakan lebih baik daripada sapi lainnya. Pada umur 1,5 tahun bobot sapi bali mencapai 217,9 kg.  Dari segi produksi karkas, sapi bali memiliki persentase karkas yang tinggi dari pada sapi unggul lainnya. Persentase karkas sapi bali berkisar 56-57%.
2. SAPI MADURA


Sapi Madura adalah bangsa sapi potong lokal asli Indonesia yang terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu (Hardjosubroto dan Astuti, 1994), yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak. Karakteristik sapi Madura yaitu bentuk tubuhnya kecil, kaki pendek dan kuat, bulu berwarna merah bata agak kekuningan tetapi bagian perut dan paha sebelah dalam berwarna putih dengan peralihan yang kurang jelas; bertanduk khas dan jantannya bergumba. 
Sapi Madura berasal dari pulau madura dan pulau-pulau di sekitarnya. Ciri-ciri punuk diperoleh dari Bos indicus sedangkan warna diwarisi dari Bos sondaicus. Ciri-ciri fisik Sapi Madura yaitu baik jantan ataupun betina sama-sama berwarna merah bata, paha belakang berwarna putih, kaki depan berwarna merah muda, tanduk pendek beragam. Pada betina kecil dan pendek berukuran 10 cm, sedangkanpada jantannya berukuran 15-20 cm. Panjang badan mirip Sapi Bali tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil. Persentase karkas dari sapi madura ini dapat mencapai 48 %.
3.SAPI ACEH


Sapi Aceh adalah sapi potong turunan dari grading-up persilangan antara sapi Ongole dengan sapi lokal setempat. Bangsa sapi yang juga banyak ditemukan di Sumatera Utara selain di Aceh ini memiliki bobot badan dewasa yang dapat mencapai rata-rata 300 kg – 450 kg pada jantan dan 200 kg – 300 kg pada betina. Adapun ciri-ciri fisik sapi Aceh antara lain; berpunuk, bertanduk, bulu berwarna cokelat merah atau warna menjangan. Sapi Aceh merupakan salah satu bangsa sapi potong daerah tropis yang digunakan peternak Indonesia sebagai bibit sapi potong.

4. SAPI ONGOLE


Sapi Ongole adalah sapi potong impor berasal dari India, dibudidayakan di Indonesia secara murni di pulau Sumba, sehingga dikenal pula sebagai sapi Sumba Ongole. Pada perkembangannya selain di pulau Sumba, saat ini sapi Ongole telah tersebar di Sulawesi Utara, Kalimantan dan Jawa.  Di pulau Jawa, sapi ini dikenal sebagai sapi Benggala. Keunggulan dan performa produksi Sapi Ongole yaitu; Pertambahan Berat Badan (PBB) bisa mencapai 0,47 kg – 0,81 kg per hari, Berat Badan jantan dewasa rata-rata 550 kg – 600 kg dan betina 350 kg – 450 kg, tahan terhadap panas dan parasit, daya hidup pedet sangat baik, daya produksi yang baik dalam kondisi jelek, dapat dimanfaatkan juga sebagai sapi pekerja.
Ciri–ciri fisik sapi Ongole adalah 1) Bulu berwarna variasi setelah berumur 1 tahun dari putih sampai putih kelabu dengan campuran kuning oranye kekelabuan, dimana pada leher, ponok dan kepala sapi jantan berwarna putih keabu-abuan serta lututnya berwarna hitam. 2) Anak sapi yang baru lahir sering berwarna cokelat, kepala berukuran panjang, telinga sedang agak menggantung. 3) Tanduk berukuran pendek pada jantan dan berukuran lebih panjang pada betina. 4) Ponok bulat dan besar. 5) Gelambir lebar dan menggantung serta berlipat-lipat mulai dari leher melalui perut sampai dengan ambing atau tali pusar. 6)Tinggi badan dapat mencapai 150 cm pada jantan dan 135 cm pada betina 7) Rata-rata pertambahan berat badan harian (ADG) dapat mencapai 0,4-0,6 kg/ hari dengan hasil silangnya (keturunannya) memiliki ADG yang dapat mencapai 0,28 kg/hr. 8) Adanya warna hitam yang mengelilingi lubang mata yang biasa disebut cicin mata.

5. SAPI PERANAKAN ONGOLE


Sapi Peranakan Ongole atau sapi PO adalah sapi potong hasil grading up, sapi lokal setempat dengan sapi Ongole. Pada perkembangannya sapi ini banyak ditemukan di Grobogan, Wonogiri dan Gunung Kidul (Jawa Tengah), di Magetan, Nganjuk dan Bojonegoro (Jawa Timur), serta di Aceh dan Tapanuli Selatan. Bangsa sapi yang diyakini populasinya jauh lebih banyak dibandingkan dengan sapi lokal lain ini memiliki keunggulan dan performa produksi sebagai berikut : – BB dewasa mencapai 584 kg – 600 kg, masa fattening 3 bulan – 5 bulan, PBB 0,8 kg – 1 kg, persentase karkas 45%, tahan terhadap panas dan parasit, mampu berproduksi dengan baik dalam kondisi jelek, daya hidup pedet sangat baik, dapat dimanfaatkan juga sebagai sapi pekerja dan jinak.

6. SAPI BRAHMAN
Sapi Brahman (sapi pedaging) impor, berasal dari India dan berkembang dengan sangat baik di Amerika Serikat, sehingga dikenal pula sebagai sapi American Brahman.Pada perkembangannya sapi Brahman telah tersebar di daerah tropis dan subtropis termasuk Australia dan Indonesia. Bangsa sapi yang termasuk sapi Zebu ini memiliki keunggulan dan performa produksi sebagai berikut : masa fattening 3 bulan – 4 bulan, PBB bisa mencapai 0,83 kg – 1,5 kg per hari, bahkan ada juga yang menyebut dapat 1,5 kg – 2 kg per hari, BB jantan dewasa mencapai  800 kg  dan betina 550 kg, persentase karkas 48,6% – 54,2%, tingkat fertilitas yang tinggi, mampu tumbuh sama baiknya di daerah tropis dan subtropis, mampu tumbuh cepat di daerah yang kurang subur dengan pakan yang sederhana, tahan terhadap panas dan parasit, bobot pascasapih dan daya hidup pedet yang baik 
Ciri – ciri fisik sapi brahman sebagai berikut : tubuh berukuran besar dan panjang dengan kedalaman yang sedang, punggung lurus, kaki berukuran sedang sampai panjang, bulu berwarna abu-abu muda atau merah atau hitam, dimana pada jantan menunjukkan , warna yang lebih gelap daripada pada betina, kepala panjang, telinga menggantung, tanduk berukuran sedang, lebar dan besar, kulit longgar dan halus dengan ketebalan yang sedang, ponok berukuran besar pada jantan dan berukuran kecil pada betina, gelambir berukuran besar dan tumbuh hingga bawah perut dan tali pusar .
7. Sapi Brahman Cross (BX)


Sapi Brahman Cross (BX) pada awalnya dikembangkan di stasiun CSIRO’S Tropical Cattle Research Centre di Rockhampton Australia. Materi dasarnya adalan American Brahman, Hereford dan Shortron. Sapi BX mempunyai proporsi 50% darah Brahman, 25% darah Hereford, dan 25% darah Shorthron. Secara fisik bentuk fenotip sapi BX lebih cenderung mirip sapi American Brahman karena proporsi darahnya yang lebih dominan, seperti punuk dan gelambir masih jelas, bentuk kepala dan telinga besar menggantung. Sedangkan warna kulit sangat bervariasi mewarisi tetuanya. Di Indonesia sapi BX di impor dari Australia sekitar tahun 1973 namun penampilan yang dihasilkan tidak sama dengan di Australia.
Sifat-sifat Sapi Brahman Cross (BX) antara lain; persentase kelahiran 81,2%, rataan bobot lahir 28,4 kg, bobot umur 13 bulan mecapai 212 kg dan umur 18 bulan bisa mencapai 295 kg, angka mortalitas postnatal sampai umur 7 hari sebesar 5,2%, mortalitas sebelum disapih 4,4%, mortalitas setelah sapih sampai umur 15 bulan sebesar 1,2% dan mortalitas dewasa sebesar 0,6%, daya tahan terhadap panas cukuo tinggi karena produksi panas basal rendah dengan mengeluarkan panas yang efektif, tahan terhadap parasit dan penyakit, serta efisiens dalam penggunaan pakan terletak antara sapi Brahman dan persilangan Hereford Shorthron (Turner,1997 dalam Priyo, 2008).